HUKUM KOMUNIKATIF Karya: Anom Surya Putra ~ Naskah (calon) buku yang ditulis dalam keadaan "chaotic", non-sistematis, sedikit mengandung aforis atau metafor, tidak bermanfaat bagi praktisi hukum, dan mungkin berguna bagi pemula yang hendak membaca "hukum" dengan cara rebahan, atau bacaan ringan bagi individu yang mati-langkah dengan dunia hukum yang digeluti selama ini ~ BAGIAN KE-1: BANGUN DARI TIDUR YANG PANJANG Secangkir kopi dan teh berdampingan di meja kecil. Gemericik air dari pahatan pancuran air menemani cairan yang tersimpan di dalam cangkir kopi dan teh. Mata sembab setelah menatap ribuan kalimat di layar komputer. Jemari bergerak secara senyap, memindahkan visual pikiran dan audio batin ke dalam rangkaian gagasan. Awal. Baru memulai. Chaotic . Bangun dari tidur yang panjang. Terlalu banyak minum kopi dan teh sungguh memicu asam lambung. Cinta yang mendalam terhadap kopi dan teh terganggu dengan asam lambung yang bergerak maraton di dalam tubuh. Kurang b...
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
MEDITASI RUMI MATSNAWI MAKNAWI
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Tulisan kali ini mengangkat tema meditasi dan Rumi. Kali pertama pembaca akan menonton video tentang Meditasi Tanpa Objek yang diselaraskan dengan syair dalam kitab Matsnawi Maknawi karya Rumi. Anda bisa menonton video ini lengkap dengan langkah-langkah meditasinya. Anda juga bisa memesan buku terjemahan kitab Matsnawi Maknawi kepada penerjemahnya yakni M Nur Jabir 0821-1301-4703.
Video Meditasi Rumi Matsnawi Maknawi
00:00 Sekilas Kitab Matsnawi Maknawi karya Jalaluddin Rumi
01:37 Memaknai dan Visualkan Syair (Kisah Seruling)
02:39 Siapkan Alat Tulis, Tuliskan Derita Keterpisahan yang pernah Anda alami
03:57 Tulislah Daftar Keinginan, Rasa Marah, Berbangga Diri, Sombong, Suka Menuntut
05:18 Memaknai Syair
06:13 Bersiap untuk Bermeditasi
14:22 Selesai
RUMI, Meditasi Deepak Chopra dan Derita di Masa Pandemi
"Dunia itu hanya siklus makan memakan. Suasananya hanya penderitaan. Bagaimana jika Rumi memandang situasi derita di masa pandemi, melalui pernyataan: Cinta itu menghubungkan antara semesta dan aku". Perbincangan Religi kali ini mengunggah tema diskursus Sufi dari Rumi yang awalnya didialogkan dengan fenomena trend Meditasi Deepak Chopra. Berlanjut pada obrolan, bagaimana perspektif Rumi mengatasi segala derita dalam kehidupan pandemik? Simak obrolan berikut ini sambil menonton videonya sampai tuntas..
TIME STAMPS:
00:00 Intro
00:53 Perkenalan Muhammad Nur Jabir
01:30 Rumi dan Meditasi Deepak Chopra
07:44 Fenomena Pembatasan di Masa Pandemi (PPKM)
10:05 Rumi dan Pemaknaan atas Derita di Masa Pandemi
Metafisika RUMI dalam Situasi Panik Pandemik
Perbincangan kali ini mengunggah tema diskursus Sufi dari Rumi yang awalnya didialogkan dengan fenomena tren Meditasi Deepak Chopra. Berlanjut pada obrolan, bagaimana perspektif Rumi mengatasi segala derita dalam kehidupan pandemik. Simak obrolan berikut ini sambil menonton videonya sampai tuntas.
Anom Surya Putra: Selamat bergabung para penonton dan pembaca di channel saya. Kali ini kita akan berbincang dengan seorang penulis buku dan penerjemah Kitab Matsnawi Maknawi yaitu mas Nur Jabir. Kitab Matsnawi Maknawi ini ditulis oleh Maulana Jalaluddin Rumi. Tema kali ini kita akan membahas apa saja yang berkaitan dengan kefilsafatan dari Rumi. Yang coba kita bumikan atau mungkin kita benturkan dulu dengan metafisika yang lain. Dan di sela-sela itu kita bisa saling memberikan proses dialog. Atau juga proses dialektika, mana tesis dan antitesisnya. Sehingga kita akan menemukan suatu proses cara berpikir yang mandiri. Sebelumnya, silahkan mas Nur Jabir untuk memperkenalkan diri.
Muhammad Nur Jabir: Terima kasih Mas Anom, wah ini luar biasa. Saya merasa terhormat diundang mas Anom. Mas Anom ini guru saya (saling tertawa), bertetangga, tempat curhat, enak ngobrol sama mas Anom. Perkenalkan, nama saya Muhammad Nur Jabir. Saat ini mengurusi RUMI INSTITUTE. Sehari-hari, saya menerjemah (Kitab Matsnawi Maknawi).
Anom Surya Putra: Para penonton dan pembaca bisa menyaksikan di layar, ada gambar screenshot, kitab Matsnawi Maknawi yang sedang proses untuk diterjemahkan sampai tuntas. Kalau di channel ini ada satu serial meditasi (PERFECT HEALTH) Deepak Chopra. Dia mengutip pemikiran-pemikiran Rumi untuk masuk ke dalam dunia kesadaran murni. Mungkin kita bisa awali dari perbincangan tentang hubungan antara meditasi dengan pemikiran Rumi.
Muhammad Nur Jabir: Saya juga salah satu orang yang suka Deepak Chopra. Karena beliau juga punya perhatian besar terhadap Rumi. Setahu saya, dia punya Kafe Rumi bersama Madonna dan Demi Moore, kalau nggak salah. Mereka bersama-sama di Kafe Rumi membaca syair-syair Rumi, memberikan deskripsi tentang Rumi.
Dan Deepak Chopra memang unik, seorang saintis murni dan kemudian dia menemukan sesuatu hal spiritual dibalik dunia saintis itu melalui Rumi. Nah kenapa begitu? Kalau saya mencoba menduga karena memang ada bahasa-bahasa Rumi ini yang mencoba menjelaskan tentang gagasan UNIVERSE yang hadir dalam segala realitas, terhubung dengan segala sesuatu, inti dari segala sesuatu tanpa mesti terikat dengan satu tradisi tertentu. Mungkin itu dugaan saya kenapa Deepak Chopra punya perhatian besar terhadap Rumi.
Anom Surya Putra: Ada gagasan Chopra tentang kesehatan, penyatuan tubuh, jiwa dan roh. Saya melihat juga banyak pemikiran-pemikiran Deepak Chopra, apalagi meditasi Deepak Chopra tentang creating abundance, 21 days of abundance itu sangat luar biasa. Beberapa tahun terakhir sampai (menjadi trend) di Indonesia. Mulai banyak versi-versinya, pengikutnya, pelaksananya. Padahal semuanya itu tidak resmi, termasuk channel saya juga tidak resmi. Inti gagasan yang dinyatakan dalam pemikiran Rumi, kira-kira apa kalau kita ringkas dari sisi metafisika misalnya?
Muhammad Nur Jabir: Agak sulit untuk meringkas pemikiran Rumi. Karena pengalaman dalam penerjemahan saya ini justru saya menemukan lautan. Awalnya mungkin saya melihat Rumi itu sekedar quote sederhana. Tapi dalam proses penerjemahan ini yang sudah hampir kira-kira 10.000 bait syair yang telah saya lalui itu, bagi saya (terasa) takjub. Karena salah satu yang saya nikmati dalam penerjemahan ini adalah setiap bait itu ada pemaknaan. Maka, sulit untuk mendeskripsikan Rumi dalam satu kalimat. Tapi, begini. Kita tahu Rumi seorang Sufi. Seorang sufi ini tentu lebih melihat ke dalam sebagaimana sufi yang lainnya. Karena memang ketika kita melihat ke dalam kita akan melihat keluasan diri kita, keluasan jiwa kita dan itu sebenarnya harmoni dengan alam semesta. Jadi, kalau kita lihat alam semesta ini sesuatu yang luas tak terbatas, sulit untuk dijangkau titik akhirnya. Itu sebenarnya identik dengan jiwa kita. Ada keharmonian sebenarnya antara dunia luar dengan dunia dalam.
Manusia modern jarang melihat ke dalam. Kita memang hampir disuguhkan keindahan yang luar biasa di luar itu sehingga kadang kita melupakan sesuatu di dalam diri kita. Para sufi ini termasuk Rumi mengajak untuk melihat ke dalam karena di dalam itulah sebenarnya ada lautan yang tak bertepi. Kira-kira begitu. Jadi, kalau mau diringkas ada satu syair dari Rumi bahwa cinta itu jembatan antara Universe dengan dirimu, kira-kira begitu. Maka, banyak orang meringkas pemikiran Rumi ini dengan cinta. Saya setuju tapi dalam pengertian, cinta adalah jembatan antara dirimu dengan semesta.
Anom Surya Putra: Lalu kalau itu dimaknai, semesta dan dunia itu kita bedakan, atau dua istilah dengan satu pemahaman, atau suatu istilah yang sama?
Muhammad Nur Jabir: Saya lebih menyebut semesta itu karena semesta melampaui baik dunia maupun di luar dunia. Kalau dalam benak saya, dunia adalah Yang Materi.
Anom Surya Putra: Materi pemikiran Rumi, dalam konteks BENTUK, berarti memandang dunia dan bukan mengidentikkan semesta dengan dunia. Ini khas diskursus metafisika. Saya coba bergeser dari perbincangan tentang Deepak Chopra karena menurut saya, Deepak Chopra memang menghadirkan diskursus filsafat apapun dari Rumi dan dari diskursus metafisika lainnya dalam kehidupan sehari-hari, dan selanjutnya digunakan dalam dunia meditasi. Saya mencoba untuk menggesernya (pembahasan Rumi dan Deepak Chopra) ke diskursus masa pandemi. Dalam masa pandemi ada fenomena PPKM. Pembatasan terhadap aktivitas, mobilitas dan sebagainya. Ada pro dan kontra. Satu sisi, bagi kelas menengah yang terancam kehidupannya, rentan tubuhnya, fisiknya, mereka sangat mendukung. Mungkin karena mereka secara pola ekonomi sudah tetap, ada gaji tetap maksudnya. Ada penghasilan. Tetapi disisi lain, hak hidup mereka (gaji tetap) yang dijamin oleh pemerintahan lewat PPKM, katakanlah itu untung. Tetapi siapa yang buntung atau rugi? Yang buntung atau rugi adalah masyarakat yang pedagang kecil, yang tidak bisa mengandalkan situasi PKM ini untuk bisa mendongkrak pola nafkahnya. Ada pertentangan antara hak hidup dengan dan hak untuk berusaha. Benturan ini menimbulkan penderitaan. Berarti, dunia selama pandemi, isinya penderitaan. Situasinya, siapa makan siapa atau siapa enggak bisa makan.
Dalam konteks diskursus metafisika yang lebih luas, nanti kalau ada virus yang membunuh manusia, kemudian katakanlah manusia dikubur, kemudian (jasad manusia) menyatu dengan tanah lagi, menggemburkan tanaman, rumput mengambil intisari dari jasad, seterusnya lagi...rumput menghasilkan energi, udara dan seterusnya, atau ada tanaman lain yang memanfaatkan energi dari jasad, kemudian tanaman itu dimakan lagi manusia dan terus seperti itu. Situasinya: dunia itu hanya siklus makan memakan. Suasananya hanya penderitaan. Kira-kira bagaimana Rumi memandang situasi tadi, pada konteks sebelumnya, "Cinta itu menghubungkan antara semesta dan aku", tapi ternyata dalam konteks material suasananya penuh penderitaan.
Muhammad Nur Jabir: Nah, ini menarik. Karena kalau kita kembali ke masa hidup RUMI, konteks dimana dia hidup. Bertepatan dengan ayahnya diusir Raja. Bertepatan dengan Mongol menyerang daerah sana mulai dari Pakistan, Afghanistan, daerah Rumi. Dan itu memang masa sulit bagi Rumi. Tapi, masa sulit seperti itu menghasilkan karya seperti karya-karya Rumi. Ini juga sesuatu fenomena.
Saya teringat satu penyair, Friedrich Hölderlin di Jerman, mengatakan, hampir semua penyair besar itu justru lahir dari masa kritis atau krisis. Yang disampaikan tadi kan bahwa sekarang ini situasi krisis. Krisis ekonomi, krisis kemanusiaan, krisis relasi. Kita ternyata begitu rapuh. Peradaban kita begitu rapuh dengan virus. Apa yang kita bangun sebelumnya tidak bisa menjawab dengan baik dari segi sains. Bahkan gagasan teologis tidak bisa menjawab karena kita masih berdebat tentang apakah boleh sholat dan seterusnya, ini vaksin dan seterusnya ada perdebatan teologis. Ternyata kita krisis luar biasa.
Dengan virus Ini akhirnya kita sadar bahwa krisis ini hampir terjadi di seluruh dimensi kehidupan kita. Krisis ekonomi itu hanya salah satu, kalau menurut saya, tapi yang lebih luar biasa itu ternyata kita mengalami krisis kemanusiaan. Sehingga bahasa mas Anom tadi: siapa makan siapa, siapa yang untung, siapa yang buntung, dan seterusnya.
Situasi seperti ini kalau mengutip Viktor Frankle, Frankle itu menganut mazhab eksistensialis dalam melihat Manusia bahwa Yang Utama dalam diri manusia adalah "meaning", memaknai. Dan memang memaknai ini bukan suatu hal yang mudah. Kita pernah diskusi bahwa apa yang terjadi selama pandemi, sebenarnya secara lingkup kecil pernah terjadi pada masa sebelumnya. Misalnya, kita puasa. Puasa itu kan bagian dari mengisolasi diri, menahan diri. Isolasi dan karantina itu kan kita disuruh bersabar, tidak berinteraksi ke luar, menahan diri dan seterusnya.
Soal kalangan tertentu yang penghasilannya cukup untuk menafkahi di masa pandemi, mungkin bukan persoalan Rumi. Saya kira persoalan Rumi adalah persoalan eksistensialis, bukan persoalan yang sampai mengeluarkan satu kebijakan yang bisa memberikan solusi terhadap orang-orang yang memang dibuntungkan dengan masa pandemi. Tugas Rumi sebenarnya adalah memberikan makna atau "meaning" terhadap derita atau penderitaan tadi (di masa pandemi). Menurut saya, itu penting.(*)
Day 1 DEEPAK CHOPRA 21-Days of Abundance Meditation Challenge - So Hum The Reality of Abundance DEEPAK CHOPRA 21-Days of Abundance Meditation Challenge. Day 1 Here we go! After you complete the task, please write: "Day 1 Done." You can leave the group if you decide not to continue. I highly recommend doing the meditation and the task at the beginning of the day, if possible. It changes the course of the day! Task In your new notebook, make a list of 50 people that have influenced your life. They can be both living and already departed people, your relatives, friends, and celebrities, writers and personalities whom you do not necessarily know personally. Everyone who has influenced you, and contributed to your growth & development. The list must have at least 50 names. In the process of making a list, think about why you chose the person. What has changed in your life for the better? Move calmly and thoughtfully. Remember the best things about each person in the list and w...
Welcome to day four. Noted Swiss psychologist and psychiatrist Carl Jung, coined the term, Collective unconscious. He coined the term to signify the beliefs we hold, that are based on what others have taught us. All these beliefs, stem from object prefer, seeking answers, externally, and accepting others portrayals of how life is supposed to be. As we reconnect with the higher self, they are living within for guidance, we begin to live our lives through self-refer, detaching from external messages, and living from Pure Consciousness or the unified field. As we contemplate our understanding of abundance, We may realize that our social conditioning has led us to believe, that there is only so much to go around, a finite amount of money, or a limited number of opportunities. Whether we define abundance as material wealth, love, joy, friends for recognition, we project the idea that these resources are scarce, and when they are gone, there will be no more. If this has been your ...
Welcome to day three. What is reality? Is it what we can experience with our senses? Or is it something else, something deeper. Consider for a moment, where was the chair you were sitting on before it was created, where was your newborn before she came into this world? Just because we cannot see or touch something, does not mean it doesn't exist. It simply means we can't experience it, in a three-dimensional world, at this moment. The same holds true for whatever you consider abundance, limitless love, unbounded joy, optimal health, our greater material possessions. Just because you're not experiencing what you desire in this moment, doesn't mean it can't exist, for you. We live our lives primarily on the physical plane, which includes everything that has form or substance, what we commonly refer to as mater. Some look at this physical realm, and see lack, others, see abundance. Some feel abundant, others feel limited, based on certain messages they may have receive...
Welcome to Day 21. Congratulations on completing the Chopra Center 21-Day Meditation Challenge, Creating Abundance. It has been our gift to share these rich meditation experiences with you. Throughout our time together, you have acquired the daily tools to help manifest abundance in your life. You have grown in confidence, that abundance is assured, certain in the knowledge that it is your birthright. Experiencing abundance all around you, you know that you co-create with your higher self, and can truly express yourself, as an abundant being. One who can enhance the lives of others and effect positive change in the world. Today I will guide you through a visualization meditation, where we will plant the seeds of this abundance consciousness, to grow more love happiness, prosperity, anything you wish, blissfully aware that abundance will flow easily, and effortlessly into your life. Let's begin. Sit comfortably and softly close your eyes. Inhaling and exhaling gently, letting...
Welcome to Day 13. In the words of dr. David Thurman, my beloved friend and co-founder of the Chopra Center for well-being, abundance is a state of mind in which you believe you are intrinsically creative. You recognize that the universe is abundant, and that you are an expression of the universe. If you accept the idea of an unlimited abundant universe, you relinquish the desire to manage circumstances, and force solutions in order to manifest your desires. This, is the essence of the law of detachment. The law of detachment, teaches us to focus our attention on what we desire, take the necessary steps to achieve our dreams, and then find security in the wisdom of uncertainty, by letting go of any attachment to outcome, an essential step in achieving our goals. Think for a moment about the time you try to recall the name with no success. Finally, after struggling to remember you let go of your efforts, then a little while later the name flashed across the screen of your con...
Buku sosiologi hukum ini menyajikan visi ilmiah sosiologi hukum berdasarkan diskusi tentang pencapaian utama dari spesialisasi sosiologi hukum. Karya Mathieu Deflem ini mengungkapkan nilai-nilai studi sosiologi hukum dengan menyatukan tema-tema teoritis dan empiris. This is a copy of an Indonesian translation of “ Sociology of Law: Visions of a Scholarly Tradition ” (2008), Mathieu Deflem, University of South Carolina, Translated by Anom Surya Putra. Source: Sociology of Law: Visions of a Scholarly Tradition , by Mathieu Deflem (Cambridge University Press, 2008) https://deflem.blogspot.com/2008/01/socoflaw.html Please cite as: Deflem, Mathieu. 2008. "Sosiologi Hukum Mathieu Deflem (1): Isi Buku Sosiologi Hukum." Blog Anom Surya Putra , Juni 2022. ---------------------------- --- SOSIOLOGI HUKUM Sejak kontribusi klasik dari Weber dan Durkheim, sosiologi hukum telah memunculkan pertanyaan kunci tentang posisi hukum dalam masyarakat . Dengan menjelaskan tema teoritis dan e...
NERAKA ADALAH KERUMUNAN ANOM SURYA PUTRA SINOPSIS : Pandemi COVID-19 menerjang, mengubah Desa Gayam yang tenteram menjadi "neraka" yang penuh ketakutan dan saling curiga. Gotong royong memudar, desas-desus dedemit bergentayangan, dan kejadian aneh menghantui desa. Mudra, pemuda desa yang menjunjung tinggi kebersamaan, menyaksikan "kerumunan" yang dulu hangat kini berubah menakutkan. Ia bertemu Vanua, sukarelawan medis yang datang dari kota yang lebih dulu merasakan "neraka" pandemi. Vanua percaya bahwa "kerumunan adalah neraka," terinspirasi dari Sartre dan Le Bon. Mudra dan Vanua, dengan pandangan berbeda tentang "kerumunan," bekerja sama mengungkap misteri desa. Mereka bertemu Sari, pewaris tradisi yang memahami kekuatan gaib. Bersama, mereka dipandu Ki Rajendra, guru spiritual yang menguasai ilmu tarot, untuk melawan kekuatan jahat dan menghadapi "neraka kerumunan" dalam berbagai bentuk. Perjalanan ini menguji persahabat...
Welcome to Day 19. An Indian sage Nisargadatta Maharaj said to his followers, life is love and love is life. What keeps the body together but love? What is desire but love of the self? And what is knowledge but love of truth? The means and forms may be wrong, but the motive behind them, is always love, love of the me and the mind. The me and the mind may be small, or may explode and embrace the whole universe, but love remains. Love is the most powerful force in the universe, it can heal inspire and bring us closer to the higher self. Love is an eternal never-ending gift to ourselves and others, and when we truly experience love, we find ourselves. Like a tiny spark that ignites a blaze, that can consume a vast forest, a spark of love is all that it takes to experience love's full force, in all its aspects, earthly and divine. The practice of living love, exemplifies the unlimited abundance of the universe, no matter how many people you love, yourself, family, colleagues, the world...
Welcome to Day 18. Living only in the physical realm, we perceive the world through our senses. Yet if you depend only on our senses, we believe the physical world is our sole reality, in which all beings are separate from one another, and have access to limited resources. From this perspective of lack, we begin to believe, for instance, that if someone else enjoys success our finds love, we may be left out. We become steeped in a competition, that pits us against one another, and prevents us from experiencing true bliss. In truth, at both the molecular and spiritual levels, you and I are one, sharing the unity of an all-pervasive spirit. And once we realized that we are completely connected, the notion of competition disappears, giving way to cooperation, and unity consciousness. In this state we know, that when one person succeeds, we all succeed. Furthermore since I am you, I do not exist without you. Both illustrate at this point by using two bundles of reeds, lean...
Welcome to day seven. Congratulations on completing the first week, of the Chopra Center 21-day meditation challenge, creating abundance. Over the past six days, we have discovered the reality and source of abundance, which is unlimited and eternal. We've learned that mind, matter, and spirit, work in conjunction with one another, to manifest abundance that in the silent field of all possibilities, dwell the seeds of success, and that when you live from within, your desires are fulfilled quickly, spontaneously, and with minimal effort. This week, we'll contemplate what we sometimes call a coincidence, a miracle, or just good luck. Ask yourself, how long does it take for a dream to come true. In the minds of some specific conditions must be met, plans must be in place, a certain amount of time must pass, and effort needs to be exerted. However these conditions all spring from the physical three-dimensional world. In deeper levels of consciousness, what we call a dream, miracl...
Komentar